Pengikut

Kamis, 12 Agustus 2010

MAKAM KERAMAT GUNUNG LAWU (JAWA TENGAH)

Nama asli gunung lawu adalah Wukir Mahendra
Puncak tertinggi Gunung Lawu (Puncak Argo Dumilah) berada pada ketinggian 3.265 m dpl.
Sejak Jaman Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit pada abad ke 15 hingga Kerajaan Mataram II banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu. Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan suro, para kerabat keraton sering berjiarah ketempat - tempat keramat di Gunung Lawu.

Ada sebuah gua yang disebut Sumur Jolotundo menjelang puncak. Terdapat sebuah bangunan disekitar Puncak Argodumilah yang disebut Hargo Dalem untuk berjiarah. Disinilah tempatnya eyang Sunan Lawu. Tempat bertahtah raja terakhir Majapahit memerintahkan makhluk halus. Hargo Dalem adalah Makam Kuno tempat Mukswa sang Prabu Brawijaya. Pejiarah wajib melakukan Pesiwanan (upacara ritual) sebanyak tujuh kali untuk melihat penampakan eyang sunan lawu. Namun tidak jarang sebelum melakukan tujuh kali pendakian, pejiarah sudah dapat berjumpa dengan eyang sunan lawu.

Pawom Sewu terletak didekat pos 5 Jalur Cemoro Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan / susunan batu yang merupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Prabu Brawijaya V.

Air Terjun Gerojogan Sewu, di areal taman gerojogan disini terdapat banyak kera.
Cerita Wayang Prabu Baladewa pada saat menjelang perang Baratayudha, disuruh Kresna untuk bertapa digerojogan sewu. Hal ini untuk menghindari Baladewa ikut bertempur di medan perang, sebab kesaktiannya tanpa ada musuh yang sanggup menandinginya.
Ada juga air terjun Pringgodani, tempat bertapa Prabu Anom Gatotkaca anaknya Bima. Untuk menuju kesana melawati jalanan yang sempit dan terjal. Disini terdapat bertapaan yang juga ada sebuah kuburan yang konon merupakan kuburan Gatotkaca. Kuburan ini dikeramatkan dan banyak pejiarah yang datang. Di atasnya terdapat hutan Pringgosepi.

SEJARAH KERAMAT DI GUNUNG LAWU
Harga Dalem diyakini Masyarakat setempat sebgai tempat Mukswa Prabu Brawijaya, Raja Majapahit yang terakhir. Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pemokswaan Ki Sabdopalon dan Harga Dumilah merupakan tempat yhang penuh misteri yang sering dipergunakan sebgai ajang menjadi kemampuan olah bathin dan meditasi.

Raja majapahit terakhir Sinuwun Bumi Nata Brawijaya Ingkang Jumeneng Kaping V memiliki salah seorang isteri yang berasal dari negeri Tiongkok bernama Putri Cempo dan memiliki Putera Raden Patah dan bersamaan dengan pudarnya Kerajaan Majapahit, jinbun Fatah mendirikan Kerajaan Islam di Glagah Wangi (Demak).

Prabu Brawijaya bersemedi dan memperoleh wisik yang pesannya : sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah kekerajaan yang baru tumbuh serta masuknya agama baru(Islam) memang sudah takdir dan tak bisa terlelakan lagi.

Prabu Brawijaya dengan hanya disertai abdinya yang setia sabdopalon diam - diam meninggalkan keraton naikke gunung lawu. sebelum sampai dipuncak dia bertemu dengan 2 orang umbul (bayan/kepala dusun) yaitu Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia mukti dan mati mereka tetap bersama Raja.

Sampailah Prabu Brawijaya bersama 3 orang abdi di puncak Hargodalem. Saat itu Prabu Brawijaya sebelum Muksa bertitah kepada 3 orang abdinya dan mengangkat Dipa Menggala menjadi penguasa gunung lawu dan membawahi semua makhluk gaib (peri, jin dan sebagainya) dengan wilayah kebarat hingga ke wilaya merapi/Merbabu, ketimur hingga gunung wilis, keselatan hingga pantai selatan dan keutara hingga dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu dan mengangkat wangsa Menggala menjadi patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Prabu Brawijaya Muksa dci Hargo Dalem, sedangkan Sabdo Palon Muksa di Puncak Harga Dumiling. Karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya Sunan Gunung Lawu dan Kyai Jalak kemudian menjadi Makhluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

Tempat - tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni : Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya dan Pringgodani.

12 komentar:

  1. banyu cilik samudra22 Mei 2011 14.45

    alhamdulilah masih ada blok semacam ini, saya sebagai orang asli lawu ngucapin matur sembah pinuwun mugi-mugi meniko dados aken pawartos ingkang luwur. dumateng poro kadang kang sami remen ngawuri adat jawi, monggo kulo haturi supados tindak dateng mriki sowan kanti niat kang sae ampun kang neko2 mugi2 gusti kang sawiji paring kamulyan s=dateng sendanten ipun. nuwun..... rahayu....rahayu,,,rahayu....

    BalasHapus
  2. nderek nguri uri kabudayan jawi.. mugo -mugo tetep lestari.... lestari lingkungane lestari kabudayane... suwun..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mugi taksih kathah kadang kaneman ingkang kerso ngleluri bab meniko,boten namung cubriyo lan dadosaken mengsah dateng budayanipun piyambak

      Hapus
  3. Mudah2 anak cucu keturunan kita masih ada yg mau tau sejarah leluhurnya. Amin

    BalasHapus
  4. jangan sampai hilang sejarah dalam khidupan kita yang modern ini. sllu brdoa untuk para leluhur kita.

    BalasHapus
  5. Ki Ageng Ronggo Mataram18 November 2013 01.51

    Insya Allah kita selalu ingat berdoa untuk para leluhur agar di ampni semua kelalaiannya diberikan tempat layak oleh ALLAH SWT.........Aamin

    BalasHapus
  6. Saya pernah bermimpi...dalam mimpi saya ada suara wanita yang berkata " Le kowe reneo ibu wes muleh seko Pajajaran " dlm batin saya harus ke puncak lawu, seketika saya sudah berada dipuncak sperti gurun byk rumput tinggi kemudian datang kpd saya rusa berbulu emas kmudian menjelma menjadi seorang putri dan berpesan kdp saya " tak ke'i pisan iki tapi ojo dinggo macem2 " ada sinar putih yg dimasukkan ke tubuh saya kmuadian saya terbangun. Kira2 ada ga yg bisa mengartikan mimpi saya tersebut. terima kasih sebelumnya.

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. wah,,, wah,,, dalem banget sejarahnya. jawa nya kena banget.... "jempol".... :)

    BalasHapus
  9. Mohon Maaf sebelumnya....Puncak Lawu ada 3 yaitu Hargo Dumilah, Margo Puruso Dan Hargo Tiling. Hargo Dalem Bukan puncak tapi tempat moksa eyang Brawijaya V.

    BalasHapus
  10. untung masih ada,orang-orang ,jawa masih percaya kejawen,sebagai pedoman hidup. memang harus dilestarikan budaya jawa,siapa lagi yg kalau bukan penduduk jawa (bukan penduduk asli,soalnya penduduk asli indonesia tidak ada,kita pendatang semuanya)

    BalasHapus